Khotbah Nikah Profesor Suyanto

Republika. Selasa, 17 Februari 2009 pukul 06:48:00

oleh: Ahmad Syafii Maarif

Tentu banyak di antara kita yang sudah menghadiri upacara akad nikah calon atau pengantin baru dan sekaligus mengikuti khotbah nikah/nasihat perkawinan yang disampaikan seseorang: kiai, ustadz, atau pemimpin Islam yang dipilih pihak keluarga yang akan mengawinkan putra-putrinya.

Saya sendiri beberapa kali mengikuti khotbah itu dalam suasana serbakhusyuk dan terasa sakral. Umumnya, khotbah yang disiapkan dengan baik punya dampak psikologis yang kuat, tidak saja atas diri calon pengantin yang akan mengakhiri masa lajangnya, tetapi juga atas diri para undangan yang mengikutinya dengan tekun.

Profesor Suyanto yang kini menjabat sebagai dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional lebih dikenal sebagai tokoh pendidik, bukan sebagai kiai atau ustadz yang biasa berdakwah di tengah-tengah kumpulan orang banyak. Jika menyampaikan makalah atau berceramah tentang pendidikan umum atau pendidikan Islam, Suyanto memang sudah terbiasa. Tetapi, memasuki wilayah khotbah nikah bagi putri-putra temannya baru sekali dilakukannya di Masjid Agung Kota Gede, Yogyakarta, 14 Februari 2009. Saya dan Bung Nasrullah (seorang caleg DPR pusat sebuah partai) diminta menjadi saksi dalam upacara akad nikah itu.

Dalam perkiraan semula, khotbah Suyanto pasti bagus dan lincah, cara itu memang gayanya karena ia paham psikologi anak remaja. Ternyata khotbah itu tidak saja bagus, tetapi sangat menyentuh relung hati manusia yang terdalam. Saya yang lama belajar di madrasah belum tentu bisa menyiapkan khotbah seperti itu. Khotbah Suyanto memakai bahasa hati. Inilah kutipan yang agak panjang dalam kalimat Suyanto untuk calon pengantin putri:

Ananda! Bila kelak biduk rumah tangga bertubrukan dengan benteng karang kehidupan, bila impian remaja telah berganti menjadi kenyataan yang pahit, bila bukit-bukit harapan digoncang gempa cobaan, segenap keluarga ingin melihat Ananda teguh di samping suami. Istri atau suami akan tetap tersenyum walaupun langit makin mendung. Pada saat seperti itu, tidak ada yang paling menyejukkan suami selain melihat pemandangan yang mengharukan. Ia bangun di malam hari. Didapatinya Ananda tidak di sampingnya. Kemudian, ia dengar suara wanita bersujud, suaranya gemetar, ia sedang memohon agar Allah menganugerahkan pertolongan bagi suaminya. Pada saat seperti itu, suami Ananda akan menegakkan tangan ke langit, bersamaan dengan tetesan air matanya. Ia berdoa: Ya Allah! Kurniakan kepada kami istri dan keturunan yang menentramkan hati kami dan jadikanlah kami penghulu orang-orang yang takwa.

Kalimat ini punya daya jangkau spiritual yang jauh, setidaknya bagi saya pribadi. Siapa yang tak akan terharu membaca kalimat yang dengan puitis menggambarkan sebuah perkawinan yang tetap kokoh dan utuh di tengah gempuran cobaan hidup yang bisa menerjang setiap rumah tangga siapa saja di antara kita. Saat kalimat itu terucap, saya yang berdekatan duduk dengan Profesor Suyanto, tidak bisa lagi menahan air mata yang mengalir secara spontan. Tisu saya ambil, pura-pura menyeka keringat di kening dan di leher, padahal sasaran utamanya adalah mengeringkan air mata yang sedang meleleh. Seolah kalimat itu tertuju kepada diri saya yang juga pernah mengalami banyak cobaan. Itulah sebabnya air mata meleleh tak tertahankan.

Khotbah itu bergerak lebih jauh. Suyanto berbicara tentang posisi perkawinan dalam Islam. Dengan mengutip Alquran dalam formula mistaqan ghalidza (perjanjian yang kuat), Suyanto menyandingkan pernikahan itu dengan janji setia para rasul kepada Allah dan perintah terhadap Bani Israil agar bersumpah di hadapan Allah dalam ungkapan serupa (lihat Surah Annisa: 21 & 154; Al-Ahzab: 7).

Berdasarkan pada ketentuan ayat-ayat yang terdapat pada tiga tempat dalam Kitab Suci, ternyata perkawinan itu adalah sebuah urusan yang dahsyat. Tidak boleh dimain-mainkan sebagaimana sebagian kita punya hobi untuk itu, termasuk sebagian kiai dan sebagian artis: sebentar kawin, sebentar cerai, seperti ganti pakaian saja. Mungkin di kalangan selebritas, sebagian perceraian dipicu oleh panas sesangarnya suasana perkotaan yang sarat gosip dan persaingan, sementara di pedesaan, himpitan kemiskinan yang berat sebagai alasan utamanya.

Saya tidak tahu, apakah Profesor Suyanto masih bersedia menyampaikan khotbah nikah untuk kali kedua dan seterusnya. Khotbah yang dianyam dengan bahasa hati sungguh amat diperlukan dalam suasana bencana rumah tangga yang menimpa sebagian anggota masyarakat kita. Selamat Profesor Suyanto dengan tugas baru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: