HAKEKAT DIRI DALAM SANGKAR MATERIALISME

HAKEKAT DIRI DALAM SANGKAR MATERIALISME

Erdy Nasyrul

(dikliping dari milis gontorians@yahoogroups.com)

Indonesia semakin kacau. Sepintas kelihatan baik tapi ternyata muncul kasus BLBI. Korupsi ikut muncul juga, suap-menyuap dan pemerasan. Kekacauan seperti ini akibat kehancuran pendidikan, sosio-kultural dan ekonomi. Biang keroknya adalah Materialisme Barat. Semakin paham ini dianut semakin jauhlah kehidupan ini dari hakekat diri yang kita cari.

Paham ini bermuara pada perkataan Protagoras: “man is the measure of everythingâ€‌. Manusialah yang menentukan, bukan lagi spiritualitas keagamaan yang oleh Karl Marx dipandang sebagai candu masyarakat.

Selain Marx, seorang filosof Jerman juga melakukan hal demikian. Nietzche membunuh pemikiran manusia tentang Tuhan. Melalui senandung Zarathustra dia melantunkan the death of God.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Ludwig Feurbach, Sigmund Freud, Michel Foucault dan Jurgen Habermas. Pandangan mereka didasari atas kerancuan konsep Tuhan dalam agama (Kristen) yang mereka anut. Tidak heran bila mereka mencaci-maki agama mereka sendiri.

Berbeda dengan mereka, konsep ketuhanan dalam Islam justru dipuji oleh orang Barat. MM Sharif menyebutkan bahwa Immanuel Kant dalam bukunya La Religion dans les limites de la simple raison itu memuji Tauhid. Hal yang sama juga dilakukan oleh Auguste Comte dalam bukunya Systؤ•me de la politique positive.

Pujian tersebut adalah bukti bahwa Tauhid adalah sistem ketuhanan yang cocok untuk semua manusia dan memang benar dapat dirasakan sebagaimana dilakukan oleh para ulama kita.

Sedangkan agama Barat tidak dapat merasakan demikian. Akhirnya, orang-orang Barat berpaling kepada Materialisme.

Paham ini menyuarakan hanyalah realitas indrawi yang disebut kebenaran. Jika cara pandang seperti ini diterapkan dalam Islam maka akhirnya tiada lagi mahabbah, ma’rifah, dan hilang sudah berbagai konstruk sufistik lainnya.

Tentu cara pandang seperti ini tidak dapat diterima oleh Islam. Dalam Futuh al-ghaib, Jalaluddin al-Rumi mengutarakan bahwa berbagai kehancuran sosial dan ketidakstabilan yang ada bermuara pada cara pandang materialistis.

Kelemahan Materialisme

Selama Materialisme menyuarakan realitas indrawi sebagai pusat kebenaran maka selama itu pula manusia berada dalam ketidakpastian.

Aziz Nasafi, sufi abad 13 mengatakan bahwa dunia indrawi ini hanyalah bayang-bayang belaka. “Alam ini hanyalah kemiripan yang kebetulan saja yang dikemudian hari menjadi tidak adaâ€‌ ungkap Abdurrahman Jami’, sufi abad ke 15.

Pandangan mereka didasari oleh hadits nabi yang mengatakan bahwa kehidupan duniawi hanyalah permaninan dan sandiwara belaka. Atas dasar ini, pandangan para sufi lebih mengutamakan pandangan batin ketimbang keduniaan, termasuk realitas indrawi.

Para sufi tidak senang dengan realitas indrawi karena itu tidak dapat mengakibatkan  kedekatan dengan Tuhan. Seseorang yang menganut cara pandang materialistis akan tergolong orang yang berangan-angan menuju kebenaran. Syeikh Abdul Qadir Jailani mengutarakan bahwa orang demikian adalah orang yang tidak merasakan dan mengetahui Tauhid.

Sebagai ganti realitas indrawi, sufi menganjurkan kita untuk memiliki ketenangan jiwa atau al-nafs al-muthma’innah, yaitu keselarasan berpikir dan berdzikir. Kesatuan kinerja akal budi dengan kejernihan hati nurani. Dengan demikian kita akan berintuisi.

SMN al-Attas mengutarakan bahwa intuisi adalah penangkapan kebenaran-kebenaran keagamaan secara langsung yang mencakup realitas dan eksistensi Tuhan. Pencapaiannya adalah pembersihan dan penyucian hati. Intinya adalah pengakuan bahwa tiada lagi kesempurnaan selain Tuhan. Ini adalah hakekat diri yang kita cari

Hakekat diri

Untuk mengetahui hakekat diri ini, Sufisme mengajarkan pembersihan diri yang nantinya membuka tabir hakekat Sang Pencipta. Dasarnya adalah hadits yang diriwayatkan Ali bin Abi Thalib: “barang siapa mengetahui dirinya maka akan mengetahui Tuhannyaâ€‌.

Seseorang harus berpaling dari pandangan indrawi menuju pandangan intutif dengan mata hati. Tujuannya adalah membaca sisi-sisi metafisis manusia. Klimaksnya, manusia akan mencapai ma’rifah, yaitu mengetahui bahwa Tuhan lebih dekat ketimbang urat nadi kita (QS 50:16).

Pandangan yang demikian menyebabkan apa yang ada pada realitas eksternal seperti harta, jabatan dan kenikmatan dunia lainnya hanyalah ilusi belaka. Tidak heran bila sirna sudah kecintaan terhadap hal-hal tersebut.

Berpalinglah kepada Wujud Batin. Lebih mesralah dengan Tuhan ketimbang materi keduniaan yang masih bisa direkayasa. Niscaya muncul kebaikan batin dan indrawi. Aziz Nasafi menyebutkan bahwa karena dekat dengan Tuhan, manusia pasti berprilaku baik dengan makhluk lainnya. Inilah kejernihan penglihatan mata batin.

Berbeda dengan persepsi indrawi kita, secara kasat mata bisa saja memandang seseorang itu baik. Ternyata, secara batinnya mempermainkan bahkan tidak mengamini Tuhan.

Orang-orang seperti ini sekilas terlihat baik tapi ternyata mempermainkan rakyat, menyalahgunakan jabatan. Tiada yang diperbuat melainkan kesenangan menyiksa diri sendiri.

Tahapan menuju hakekat diri

Yang harus dilakukan adalah berpaling kepada penyucian diri. Karena itu kita harus mengawali dengan penyesalan atas dosa yang diperbuat, dibarengi dengan menahan diri dari berbagai hawa nafsu, tidak rakus dan senantiasa bersyukur atas apa yang didapat.

Selain itu, perlu diketahui bahwa semua yang ada adalah milik Tuhan bukan milik kita. Karena itu tidaklah patut memakai jubah arogansi. Akan semakin baik bila diselingi kesabaran dan pemasrahan kepada Tuhan atau tawakal.

Andai sifat-sifat terebut dimiliki maka betapa nikmatnya selalu diawasi oleh Tuhan dalam berbagai tindak-tanduk kita. Tiada lain karena sifat-sifat tadi mengkristal dalam kedekatan dan kecintaan kepada-Nya.

Cinta yang demikian membuat kita takut mengotori hati sendiri, apalagi orang lain, meskipun dengan sedikit noda hitam. Al-Attas berpendapat bahwa ini adalah takut karena keagungan dan kemuliaan Tuhan.

Melalui ketakuan ini, akhirnya muncul harapan dan kerinduan untuk senantiasa dekat dengan Tuhan.

Kedua sikap yang terakhir ini menyebabkan ketenangan jiwa karena mata hati telah melihat keagungan Realitas Tertinggi. Keadaan seperti ini dinamakan dengan musyahadah. Bagi Suhrawardi, musyahadah ibarat terbitnya cahaya yang menerangi jiwa dan menyebabkan hilangnya keraguan.

Akibat dekat dengan Tuhan

Secara alami, tidaklah mungkin jika manusia tidak mau dekat dengan Tuhan. Ibnu â€کArabi mengatakan bahwa kedekatan tersebut adalah fitrah dalam hidup. Victor Emil Frankl menyebut kedekatan ini sebagai makna tertinggi kehidupan. Dalam Danish nama-i â€کAla-i, Ibnu Sina menambahkan bahwa kedekatan tersebut mengakibatkan kenikmatan tertinggi.

Terkadang kenikmatan tertinggi ini memunculkan rasa terlindungi. Jangankan dekat, baru sekedar menyebut Tuhan saja sudah terasa terlindungi. Joseph Stalin misalnya, orang seatheis dia saja saat pesawatnya terguncang langsung teriak menyebut nama Tuhan. Orang atheis saja merasa terlindungi karena sedikit terbesit bahwa Tuhan itu ada. Apalagi kita yang tidak atheis, tentu bisa lebih dari itu.

Tapi sayang Stalin tidak agamis. Alhasil, Jules Archer mengklaim dia sebagai presiden yang sarkatis akibat tidak segan membunuh orang bahkan rela membunuh istri sendiri.

Nafsu kebinatangan seperti Stalin akan sirna bila dekat dengan Tuhan. Kedekatan dengan-Nya adalah pengakuan hanya Tuhanlah Wujud sebenarnya.

Ibnu â€کArabi menyebut pengakuan ini dengan wihdat al-wujud, yang berarti sirnanya pandangan indrawi yang merupakan ilusi dan munculnya pengetahuan (ma’rifah) bahwa Tuhanlah Wujud segala wujud.

Pengetahuan semacam ini adalah pengetahuan tertinggi sebagaimana al-Ghazali katakan dalam Ihya Ulum al-Din. al-Raghib al-Ishfahani dan Ibnu Miskawayh menambahkan bahwa semakin tinggi ma’rifah semakin mulia amal kebajikan seseorang.

Ibnu Miskawayh menjelaskan bahwa orang yang sampai pada tingkatan ini akan mampu memperlakukan sesuatu dengan apa adanya, yaitu memperlakukan manusia sebagai manusia, memakai uang negara untuk kepentingan Negara.

Intinya menempatkan sesuatu pada tempatnya, tidak rakus dan berani melakukan sesuatu yang benar. Puncaknya adalah terbiasa dengan sikap adil. Bagi Miskawayh sikap ini adalah gabungan dari sikap-sikap terpuji sebelumnya.

Jika sudah adil maka kerusakan apalagi yang terjadi. Niscaya pudar sudah kezhaliman karena manusia sudah menemui hakekat dirinya.

One Response to “HAKEKAT DIRI DALAM SANGKAR MATERIALISME”

  1. indera keenam Says:

    Selamat berjumpa dan salam kenal,

    Suatu paradigma bahwa ajaran agama merupakan generalisasi dari suatu pengalaman, baik pengalaman yang dialami oleh seseorang, masyarakat, budaya, ataupun peradaban di dunia ini. Sedangkan kita ketahui bahwa hubungan antara manusia dengan “yang Berkuasa” adalah hubungan yang sangat personal (private). Tidak mungkin jika seseorang akan bisa menerapkan pengalaman yang dialami oleh orang kepada dirinya sendiri. Maka itu yang disebut dengan kodrat. Wahyu dari Tuhan kepada Musa adalah wahyu untuk Musa, dengan kualitas dan kuantitas Musa, kehidupan Musa, periode Musa, situasi dan kondisi yang dialami oleh Musa, dsb. Sehingga pasti akan berbeda dengan wahyu Tuhan yang diberikan kepada Isa, Muhammad, sigmund freud, Soeharto, Tukul Arwana, ataupun saya sendiri (Hanya bedanya khusus pada peneliti dan kalangan tafsir, mereka melalui proses penelitian). Sedangkan Sukma sebagai motor “pengabadian” manusia, merupakan sesuatu yang independen yaitu trasmiter (hotlaine) dengan “Sang Abadi” tersebut. Sukma adalah zat yang tidak dapat dikenai hukum kedimensian seperti juga sifat Tuhan yang “Abadi”.
    Jika disimak, bahwa kitab suci dan ajaran agama sebagai kumpulan dari ketentuan atau pengalaman individu, atau orang lain, atau masyarakat dapat dijadikan suatu bahan bacaan untuk menambah pengetahuan, adalah hal yang benar. Tetapi jika ayat-ayat tersebut untuk diterapkan pada diri sebagai jalan untuk menuju “Sang Keabadian”, menurut saya merupakan kontra-produktif dengan visi tersebut. Ayat-ayat atau ajaran agama justru akan memarjinalkan produktivitas (menutup) Sukma dalam mantransfer wahyu dari Tuhan kepada setiap (Baca= Masing-masing) individu).

    Salam Kenal, Hormat Saya,
    inderakeenam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: