Khotbah Nikah Profesor Suyanto

February 17, 2009
Republika. Selasa, 17 Februari 2009 pukul 06:48:00

oleh: Ahmad Syafii Maarif

Tentu banyak di antara kita yang sudah menghadiri upacara akad nikah calon atau pengantin baru dan sekaligus mengikuti khotbah nikah/nasihat perkawinan yang disampaikan seseorang: kiai, ustadz, atau pemimpin Islam yang dipilih pihak keluarga yang akan mengawinkan putra-putrinya.

Saya sendiri beberapa kali mengikuti khotbah itu dalam suasana serbakhusyuk dan terasa sakral. Umumnya, khotbah yang disiapkan dengan baik punya dampak psikologis yang kuat, tidak saja atas diri calon pengantin yang akan mengakhiri masa lajangnya, tetapi juga atas diri para undangan yang mengikutinya dengan tekun.

Profesor Suyanto yang kini menjabat sebagai dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional lebih dikenal sebagai tokoh pendidik, bukan sebagai kiai atau ustadz yang biasa berdakwah di tengah-tengah kumpulan orang banyak. Jika menyampaikan makalah atau berceramah tentang pendidikan umum atau pendidikan Islam, Suyanto memang sudah terbiasa. Tetapi, memasuki wilayah khotbah nikah bagi putri-putra temannya baru sekali dilakukannya di Masjid Agung Kota Gede, Yogyakarta, 14 Februari 2009. Saya dan Bung Nasrullah (seorang caleg DPR pusat sebuah partai) diminta menjadi saksi dalam upacara akad nikah itu.

Dalam perkiraan semula, khotbah Suyanto pasti bagus dan lincah, cara itu memang gayanya karena ia paham psikologi anak remaja. Ternyata khotbah itu tidak saja bagus, tetapi sangat menyentuh relung hati manusia yang terdalam. Saya yang lama belajar di madrasah belum tentu bisa menyiapkan khotbah seperti itu. Khotbah Suyanto memakai bahasa hati. Inilah kutipan yang agak panjang dalam kalimat Suyanto untuk calon pengantin putri:

Ananda! Bila kelak biduk rumah tangga bertubrukan dengan benteng karang kehidupan, bila impian remaja telah berganti menjadi kenyataan yang pahit, bila bukit-bukit harapan digoncang gempa cobaan, segenap keluarga ingin melihat Ananda teguh di samping suami. Istri atau suami akan tetap tersenyum walaupun langit makin mendung. Pada saat seperti itu, tidak ada yang paling menyejukkan suami selain melihat pemandangan yang mengharukan. Ia bangun di malam hari. Didapatinya Ananda tidak di sampingnya. Kemudian, ia dengar suara wanita bersujud, suaranya gemetar, ia sedang memohon agar Allah menganugerahkan pertolongan bagi suaminya. Pada saat seperti itu, suami Ananda akan menegakkan tangan ke langit, bersamaan dengan tetesan air matanya. Ia berdoa: Ya Allah! Kurniakan kepada kami istri dan keturunan yang menentramkan hati kami dan jadikanlah kami penghulu orang-orang yang takwa.

Kalimat ini punya daya jangkau spiritual yang jauh, setidaknya bagi saya pribadi. Siapa yang tak akan terharu membaca kalimat yang dengan puitis menggambarkan sebuah perkawinan yang tetap kokoh dan utuh di tengah gempuran cobaan hidup yang bisa menerjang setiap rumah tangga siapa saja di antara kita. Saat kalimat itu terucap, saya yang berdekatan duduk dengan Profesor Suyanto, tidak bisa lagi menahan air mata yang mengalir secara spontan. Tisu saya ambil, pura-pura menyeka keringat di kening dan di leher, padahal sasaran utamanya adalah mengeringkan air mata yang sedang meleleh. Seolah kalimat itu tertuju kepada diri saya yang juga pernah mengalami banyak cobaan. Itulah sebabnya air mata meleleh tak tertahankan.

Khotbah itu bergerak lebih jauh. Suyanto berbicara tentang posisi perkawinan dalam Islam. Dengan mengutip Alquran dalam formula mistaqan ghalidza (perjanjian yang kuat), Suyanto menyandingkan pernikahan itu dengan janji setia para rasul kepada Allah dan perintah terhadap Bani Israil agar bersumpah di hadapan Allah dalam ungkapan serupa (lihat Surah Annisa: 21 & 154; Al-Ahzab: 7).

Berdasarkan pada ketentuan ayat-ayat yang terdapat pada tiga tempat dalam Kitab Suci, ternyata perkawinan itu adalah sebuah urusan yang dahsyat. Tidak boleh dimain-mainkan sebagaimana sebagian kita punya hobi untuk itu, termasuk sebagian kiai dan sebagian artis: sebentar kawin, sebentar cerai, seperti ganti pakaian saja. Mungkin di kalangan selebritas, sebagian perceraian dipicu oleh panas sesangarnya suasana perkotaan yang sarat gosip dan persaingan, sementara di pedesaan, himpitan kemiskinan yang berat sebagai alasan utamanya.

Saya tidak tahu, apakah Profesor Suyanto masih bersedia menyampaikan khotbah nikah untuk kali kedua dan seterusnya. Khotbah yang dianyam dengan bahasa hati sungguh amat diperlukan dalam suasana bencana rumah tangga yang menimpa sebagian anggota masyarakat kita. Selamat Profesor Suyanto dengan tugas baru.

Tenang dalam Setiap Masalah

September 10, 2008

Oleh K.H. Abdullah Gymnastiar

Saudaraku yang baik, ketenangan menjadi sesuatu yang dibutuhkan setiap orang. Terutama ketika sedang menghadapi masalah atau saat hendak mengambil keputusan. Orang yang tenang tidak pernah galau, panik tergesa-gesa, tidak emosional, tidak overacting. Orang tenang akan bisa menerima informasi lebih banyak, hingga dia bisa lebih memahami. Sedangkan orang yang emosional pendek kemampuan memahaminya, akibatnya kalau merespon akan tidak bagus karena keterbatasan pemahamannya.

Ketenangan pun akan membawa kewibawaan, atau karisma tersendiri bagi pemiliknya. Ia akan disegani oleh teman dan lingkungannya. Sebaliknya, orang yang overacting tidak akan memiliki kharisma. Terutama, kepada para calon pemimpin dalam skala apapun, ia harus berlatih mengendalikan diri, tetap tenang dalam kondisi bagaimanapun sulitnya. Dan, tenang bukan berarti lamban. Nabi Muhammad SAW adalah manusia paling tenang, tetapi berjalannya sangat gesit. Karena ketenangan tidak ada kaitannya dengan waktu, melainkan dengan pengendalian diri, artinya dia tetap gesit, tangkas tidak ada gurau berlebih, atau berteriak-teriak. Pribadi yang kalem senyum berukir jernih, tidak pula banyak bicara kalau memang tidak perlu bicara. Akibatnya, orang yang tenang mendapat ilmu yang lebih banyak, mendapatkan kemampuan memilih keputusan lebih baik.

Namun, ketenangan harus diupayakan agar tidak berujung menjadi sombong. Cirinya adalah ketika ia tidak peduli kepada orang lain. Dia diam tapi tidak mau mendengarkan. Malah mungkin asyik melakukan kegiatan yang lain (saat orang lain berbicara padanya). Atau, ada orang yang diam karena dia tengah memikirkan bantahan kepada orang lain, bukannya mengemas manfaat dari pembicaraan yang didengarnya.

Sehingga, tenangya kita responsif, tidak justru pelit. Reponsif seseorang memang bisa dipengaruhi oleh banyaknya keinginan, demografi (asal tempat menetapnya), lingkungan, tekanan kesulitan. Namun itu bisa diubah kalau memang ingin berubah. Nabi Muhammad SAW sendiri tertawa bila orang lain tengah melucu. Demikian pula bagi seorang pemimpin, keputusan terbaik adalah ketika ia memang memiliki akses informasi lengkap. Makin lengkap informasi makin akurat keputusannya. Dan informasi itu sendiri tidak boleh diambil hanya dari satu pihak. Kita harus belajar dari kedua belah pihak, baru mengambil keputusan. Dan yang harus kita sadari adalah tidak ada keputusan tanpa resiko, semua keputusan ada resikonya. Kita hanya perlu menghitung resiko yang paling minimal. Wallahu a’lam.

Copyright © CyberMQ.com

Rezeki Mata Uji Madrasah Kehidupan

July 7, 2008


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Verdana; panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:536871559 0 0 0 415 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} h4 {mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0in; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0in; mso-pagination:widow-orphan; mso-outline-level:4; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; font-weight:bold;} a:link, span.MsoHyperlink {color:blue; text-decoration:underline; text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed {color:purple; text-decoration:underline; text-underline:single;} p {mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0in; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0in; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} span.postedby {mso-style-name:postedby;} @page Section1 {size:595.3pt 841.9pt; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Oleh: Muhammad Nuh



dakwatuna.com – Rezeki dalam kehidupan manusia persis seperti air hujan terhadap tanaman. Ketika curah hujan cukup, tanaman pun kian menghijau, berbunga, dan akhirnya menghasilkan buah. Bedanya dengan tanaman, manusia mestinya tak perlu layu ketika rezeki tak kunjung turun.

Namun, sifat manusia memang selalu tergesa-gesa. Kala rezeki tak menetes dari langit, tak sedikit orang berpikiran pendek. Frustasi. Dan memilih layu dan gugur tanpa arti. Media massa pernah mengabarkan seorang ibu dengan menggendong balita menceburkan diri ke air danau berkedalaman puluhan meter.

Media juga mencatat seorang ibu membakar diri karena bingung tak lagi punya uang untuk makan. Ia hangus terbakar bersama dua balitanya yang sedang sakit. Na’udzubillah.

Rasa lapar kadang membuat manusia kehilangan akal sehat. Hilang akal hilang martabat. Media pernah memberitakan seorang suami tega “menyewakan” isterinya ke lelaki lain lantaran tak punya uang untuk mengontrak toko. Na’udzubillah.

Masih banyak lagi kisah getir sejenis diungkap media massa. Mempertontonkan keputusasaan manusia. Keputusasaan itu berpangkal pada himpitan ekonomi.

Sedihnya, sebagian besar mereka muslim. Entah apakah mereka pernah sempat mendengar di tempat pengajian bahwa urusan rezeki sangat berkait dengan keimanan seseorang. Rezeki, selain sebagai anugerah, juga sarana ujian: seberapa tinggi mutu keimanan seorang hamba Allah ketika ia mendapati takaran rezekinya.

Memang, tidak semua sisi yang berhubungan dengan rezeki menjadi urusan pribadi. Makmur tidaknya seorang anak manusia, boleh jadi, sangat berkait dengan kebijakan pemerintahnya. Penyediaan lapangan kerja, pemberian subsidi buat bahan pokok, kemudahan pinjaman modal; adalah di antara bentuk kebijakan yang sangat berpengaruh buat kemakmuran warga sebuah bangsa.

Namun, ketika kenyataan tidak seperti yang diinginkan, semua kembali pada kekuatan pribadi masing-masing. Dan salah satu kunci kekuatan adalah benteng keimanan. Inilah yang akhirnya sangat menentukan apakah seorang hamba Allah bisa tahan dengan problem rezeki.

Ada beberapa lubang kesalahpahaman soal rezeki yang kerap menjebloskan seseorang ke dalam kubangan kehinaan. Dan lubang-lubang itu terus berubah bergantung pada siapa yang akan jadi target. Pertama, anggapan bahwa rezeki sebagai kunci segala masalah. Inilah yang akhirnya menjadikan seseorang mengalami pergeseran tujuan hidup. Karena rezeki jadi sumber solusi, rezeki pun menjadi tujuan. Bukan lagi sekadar sarana yang boleh ada, boleh tidak.

Orang yang terjeblos pada anggapan ini, akan menghalalkan segala cara. Apa pun ia tempuh asal bisa dapat banyak rezeki. Dan jika akhirnya rezeki luput, ia akan putus asa. Baginya, kehidupan tak lagi punya arti tanpa rezeki. Maha Benar Allah dalam firman-Nya, “(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Al-Hadiid: 23)

Dalam cakupan yang lebih besar, pengalaman membuktikan bahwa kejatuhan seorang muslim -termasuk pada dai dan ulama– karena mereka terjeblos pada lubang jenis ini. Mereka pun dipermainkan kepentingan materi. Ada yang saling bermusuhan, ada yang rela menjadi kacung-kacung kekuasaan (misalnya Bal’am, seorang ulama Bani Israil yang menyangga kekuasan Fir’aun). Mereka rela melakukan apa pun asal tetap dapat rezeki. Na’udzubillah.

Kedua, anggapan rezeki berbanding lurus dengan tingkat ketakwaan seseorang kepada Allah swt. Anggapan ini yang di antaranya menjadi sebab tergelincirnya hamba-hamba Allah dari keikhlasan. Bahkan mungkin, bisa berubah menjadi kufur.

Tidak semua bentuk kasih sayang Allah swt. terlimpah langsung di kehidupan dunia. Bahkan boleh jadi, pengecilan takaran rezeki buat seseorang adalah di antara bentuk kasih sayang Allah terhadap orang itu. Karena tidak tertutup kemungkinan, orang justru jadi tidak lagi taat ketika rezekinya berlimpah.

Hal itulah yang pernah dialami salah seorang pengikut sekaligus keluarga dekat Nabi Musa a.s., Qarun. Ketika pintu rezeki terbuka lebar, ia justru berubah kufur. “Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa (anak paman Nabi Musa), maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: ‘Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (Al-Qashash: 76)

Kalau rezeki berbanding lurus dengan tingkat taat dan takwa, tentu orang yang paling kaya di seluruh penjuru dunia adalah para Rasul, sahabat, dan orang-orang saleh. Tapi, fakta sejarah tidak mengatakan itu. Sebaliknya, merekalah yang selalu berlimut sederhana. Bahkan, Rasulullah saw. pernah berpuasa setelah mendapatkan kabar dari isterinya kalau isi dapur memang benar-benar kosong.

Rezeki adalah salah satu di antara sekian mata pelajaran yang Allah ujikan dalam madrasah dunia ini. Banyak rezeki ujian, begitu pun ketika sedikit. Jangan sampai kita tidak pernah lulus di dunia keadaan itu. Banyaknya menjadi boros dan sombong, sedikitnya menjadi putus asa dan kufur.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2008/rezeki-mata-uji-madrasah-kehidupan/

Tirani Istilah Nasionalisme

June 24, 2008

Republika, Sabtu, 21 Juni 2008

Oleh :
Harun Husein
Wartawan Republika

Semenjak peristiwa bentrokan antara massa Front Pembela Islam (FPI) dan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Berkeyakinan dan Beragama (AKKBB) di Monumen Nasional (Monas) 1 Juni lalu, meluncur pendapat-pendapat yang luar biasa memprihatinkan. Opini itu menggiring untuk membenturkan Islam dengan nasionalisme! Ada apa sebenarnya antara Islam dan nasionalisme?

Opini beraroma mengadu-domba itu bergulir hanya beberapa jam setelah peristiwa Monas dan makin kentara sehari berikutnya. Sampai Senin (16/6) lalu pun opini seperti itu masih terasa menyengat. Sejumlah tokoh bangsa ini masih berusaha meluruskannya demi menjaga integrasi bangsa agar tidak diarahkan menuju pertentangan kuno bernuansa ideologi dan aliran.

Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, misalnya, menyeru menghindari pengotak-kotakan ideologi Islam-nasionalis yang memberi kesan orang Islam tidak nasionalis dan sebaliknya kalangan nasionalis tidak Islami. ’’Siapa pun yang ingin adu domba antara kelompok nasional dan Islam, sesungguhnya mereka melawan sejarah dan mengingkari sejarah Indonesia.’’

Bentrokan di Monas pada 1 Juni yang merupakan Hari Lahir Pancasila adalah sebuah fakta. Tapi, apakah cara membacanya merupakan sebuah serangan kepada Pancasila, kebhinekaan, dan nasionalisme? Tunggu dulu. Dalam ilmu fisika, pandangan seperti ini adalah paralaks, seperti melihat kayu di dalam air yang menjadi bengkok (atau mungkin sengaja ingin dibengkokkan?).

Persoalan tersebut jelas tidak bisa dijadikan konstatasi dan digeneralisasi ke dalam lingkup yang begitu dahsyat sebab peristiwanya memang memperlihatkan sebuah koinsidensi. Fakta-fakta di lapangan memperlihatkan tidak adanya kaitan simbolik bentrokan itu dengan Hari Lahir Pancasila. Lebih tepat menyatakannya karena faktor yang bersifat teknis.

Kepala Polres Jakarta Pusat, misalnya, justru menyayangkan massa AKKBB yang berdemonstrasi di Monas. Dalam pemberitahuannya mereka menyatakan hanya akan berdemonstrasi di Bundaran Hotel Indonesia. Hari itu banyak pihak yang memesan Monas untuk menyampaikan aspirasinya. Ada gerak jalan santai, ada demonstrasi antikenaikan harga BBM, dan lain-lain.

Tak perlu menggunakan logika canggih dan atraktif untuk melihat masalah itu. Bila dua massa yang berlainan aspirasi itu bertemu, tentu akan menciptakan efek psikologis yang menegangkan. Massa FPI dan AKKBB berbeda aspirasi dalam soal Ahmadiyah. Ditambah adanya provokasi berupa teriakan laskar setan dan intimidasi mengeluarkan pistol untuk menggertak massa FPI, bentrokan akhirnya sulit dihindarkan.

Bahwa FPI melakukan tindak kekerasan, hal itu memang patut disesalkan. Kekerasan tak mungkin ditoleransi di negara demokrasi yang menghendaki konflik diselesaikan dengan cara-cara damai. Tapi, ada aksi, ada reaksi. Entah siapa yang memulai, kepolisian tentu perlu menyelidiki dan merekonstruksinya dan menegakkan hukum seadil-adilnya tanpa pandang bulu.

Ahistoris
Lalu, bagaimana dengan pembacaan peristiwa itu yang kemudian digiring sebagai perbenturan Islam dan nasionalis dengan aksentuasi seolah kalangan Islam tidak nasionalis? Pembacaan seperti itu luar biasa memprihatinkan, kegenitan, over-exploitative, tidak jujur, dan mencurigakan. Tepat seperti dikatakan Hidayat Nur Wahid, ’’Mengingkari sejarah Indonesia.’’ Ahistoris!

Opini yang mengesankan kalangan Islam tidak nasionalis jelas akan menyinggung perasaan sebagian besar anak bangsa. Sejak berabad lampau, umat Islam yang paling sengit melawan penjajah dan tak terhitung banyaknya fatwa yang menyatakan membela Tanah Air adalah wajib hukumnya. Ormas dan lembaga Islam yang dulu memobilisasi laskar untuk melawan penjajah bahkan masih berdiri tegak sampai saat ini, seperti NU dan Muhammadiyah.

Umat Islam (baca santri) sejak dulu bersikap nonkooperatif kepada penjajah. Mereka bukan kolaborator. Mereka bahkan menolak anak-anaknya masuk sekolah Belanda. Tak seperti sebagian kalangan netral agama yang menikmati pendidikan di zaman politik etis — yang merupakan derivasi nasihat Snouck Hurgronye — dan terbelandakan atau bergabung dengan republik pada saat jalan sudah terang.

Para intelektual non-Indonesia dan non-Islam bahkan tidak melakukan pengingkaran sewenang-wenang atas nasionalisme umat Islam. Setelah melacaknya secara jujur, mereka menyimpulkan Islam merupakan nasionalisme Indonesia. Tengoklah pernyataan Michael H Hart. ’’Di Indonesia, agama Islam yang baru itu merupakan faktor pemersatu.’’ (Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, hal 32).

Robert W Heffner, guru besar antropologi Universitas Boston, AS, mengutip sejarawan Sartono Kartodirdjo, menegaskan bahwa Islam yang menjadi definisi intelektual dan ideologis perlawanan saat itu. ’’Islam tidak dipandang sebagai pembeda satu segmen masyarakat dari segmen masyarakat lainnya, melainkan dipandang sebagai penyuplai definisi politik menyangkut identitas nasional dan fokus perlawanan terhadap penguasa kolonial.’’ (Keadaban Demokrasi: Refleksi Tentang Beberapa Prasyarat Bagi Terwujudnya Civil Society di Indonesia dalam Islam Liberalisme Demokrasi, hal 374).

Tengok pula pendapat Sidney Jones. Dia menyatakan pada abad ke-19 dan 20, seiring beralihnya kontrol perdagangan Samudra India ke tangan bangsa Eropa, menurunnya penggunaan bangsa Arab, dan pengaruh internasional, ’umat’ tak lagi dipersepsi seperti pada abad ke-17. Umat tak lagi diperuntukkan bagi Muslim yang saleh di Nusantara dan seluruh dunia Islam, tapi menyempit sebatas Hindia. (Yudi Latif, Sekularisasi Masyarakat dan Negara Indonesia dalam Islam, Negara, dan Civil Society, hal 117). Pernyataan itu mengindikasikan Islam sebagai nasionalisme Hindia.

Tentu tak cukup mengguyurkan semua pernyataan senada di tulisan ini. Tapi, baiklah kita tengok kebenaran tesis Islam sebagai nasionalisme Indonesia itu secara empiris lewat hasil Pemilu 1955. Saat itu dari 15 provinsi, 12 di antaranya dimenangkan oleh partai Islam: Masjumi (sembilan provinsi), NU (dua provinsi), dan PSII (satu provinsi). PNI hanya menang di dua provinsi: Jawa Tengah dan NTB. Satu daerah lainnya, yaitu NTT, dimenangkan Partai Katolik. Tak berlebihan bila partai-partai Islam disebut partai yang paling Indonesia. Ini bukti faktual!

Karena itu, penggiringan opini untuk membenturkan Islam dengan nasionalis wacana tidak bermutu, rabun sejarah, dan Islamofobia. Dikotomi itu — juga trikotomi Geertz tentang abangan, santri, priyayi– semakin tidak relevan. Sejak 1980-an ketika Islamofobia mulai mundur dari pentas, muncul generasi baru: neosantri. Mereka yang dulu disebut sebagai Islam KTP, Islam nominal, telah bertekun mempelajari warisannya yang berharga: Islam.

Tentu saja itu tidak lantas menjadikan mereka tidak nasionalis. PDIP pun kini sudah punya Baitul Muslimin. Tak ada yang salah kan?

Jadi, tak perlu menjadi Pancasilais munafik seperti orang-orang PKI tempo dulu. Mereka lantang menuding umat Islam anti-Pancasila. Padahal, Pancasila ditinjau dari sudut mana pun lebih kompatibel (serasi/cocok) dengan Islam dibanding dengan Marxisme-Leninisme — bahkan juga dari semua agama di Indonesia. Jadi, tak perlu lagi menjadi (maaf) nasionalis munafik!

Sudah saatnya ’tirani istilah’ Islam-nasionalis diakhiri. Istilah itu tidak objektif dan bernuansa devide et impera. Setelah digunakan Belanda, belah bambu itu hendak pula digunakan oleh bangsa sendiri. Adalah lebih tepat mengenalkan istilah yang digunakan tokoh seperti Sjafii Maarif atau Azyumardi Azra: nasionalis Islam dan nasionalis sekuler. Titik.

Setelah itu barulah kita menyelesaikan masalah-masalah bangsa ini, termasuk soal Ahmadiyah yang sudah terlalu lama menjadi duri dalam daging, dalam bingkai keislaman (karena ini masalah internal umat Islam), keindonesiaan (karena ini masalah bangsa), konstitusi, dan demokrasi.

Ikhtisar:
– Islam merupakan nasionalisme Indonesia.
– Penggiringan opini untuk membenturkan Islam dengan nasionalis wacana tidak bermutu.

HAKEKAT DIRI DALAM SANGKAR MATERIALISME

May 8, 2008

HAKEKAT DIRI DALAM SANGKAR MATERIALISME

Erdy Nasyrul

(dikliping dari milis gontorians@yahoogroups.com)

Indonesia semakin kacau. Sepintas kelihatan baik tapi ternyata muncul kasus BLBI. Korupsi ikut muncul juga, suap-menyuap dan pemerasan. Kekacauan seperti ini akibat kehancuran pendidikan, sosio-kultural dan ekonomi. Biang keroknya adalah Materialisme Barat. Semakin paham ini dianut semakin jauhlah kehidupan ini dari hakekat diri yang kita cari.

Paham ini bermuara pada perkataan Protagoras: “man is the measure of everythingâ€‌. Manusialah yang menentukan, bukan lagi spiritualitas keagamaan yang oleh Karl Marx dipandang sebagai candu masyarakat.

Selain Marx, seorang filosof Jerman juga melakukan hal demikian. Nietzche membunuh pemikiran manusia tentang Tuhan. Melalui senandung Zarathustra dia melantunkan the death of God.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Ludwig Feurbach, Sigmund Freud, Michel Foucault dan Jurgen Habermas. Pandangan mereka didasari atas kerancuan konsep Tuhan dalam agama (Kristen) yang mereka anut. Tidak heran bila mereka mencaci-maki agama mereka sendiri.

Berbeda dengan mereka, konsep ketuhanan dalam Islam justru dipuji oleh orang Barat. MM Sharif menyebutkan bahwa Immanuel Kant dalam bukunya La Religion dans les limites de la simple raison itu memuji Tauhid. Hal yang sama juga dilakukan oleh Auguste Comte dalam bukunya Systؤ•me de la politique positive.

Pujian tersebut adalah bukti bahwa Tauhid adalah sistem ketuhanan yang cocok untuk semua manusia dan memang benar dapat dirasakan sebagaimana dilakukan oleh para ulama kita.

Sedangkan agama Barat tidak dapat merasakan demikian. Akhirnya, orang-orang Barat berpaling kepada Materialisme.

Paham ini menyuarakan hanyalah realitas indrawi yang disebut kebenaran. Jika cara pandang seperti ini diterapkan dalam Islam maka akhirnya tiada lagi mahabbah, ma’rifah, dan hilang sudah berbagai konstruk sufistik lainnya.

Tentu cara pandang seperti ini tidak dapat diterima oleh Islam. Dalam Futuh al-ghaib, Jalaluddin al-Rumi mengutarakan bahwa berbagai kehancuran sosial dan ketidakstabilan yang ada bermuara pada cara pandang materialistis.

Kelemahan Materialisme

Selama Materialisme menyuarakan realitas indrawi sebagai pusat kebenaran maka selama itu pula manusia berada dalam ketidakpastian.

Aziz Nasafi, sufi abad 13 mengatakan bahwa dunia indrawi ini hanyalah bayang-bayang belaka. “Alam ini hanyalah kemiripan yang kebetulan saja yang dikemudian hari menjadi tidak adaâ€‌ ungkap Abdurrahman Jami’, sufi abad ke 15.

Pandangan mereka didasari oleh hadits nabi yang mengatakan bahwa kehidupan duniawi hanyalah permaninan dan sandiwara belaka. Atas dasar ini, pandangan para sufi lebih mengutamakan pandangan batin ketimbang keduniaan, termasuk realitas indrawi.

Para sufi tidak senang dengan realitas indrawi karena itu tidak dapat mengakibatkan  kedekatan dengan Tuhan. Seseorang yang menganut cara pandang materialistis akan tergolong orang yang berangan-angan menuju kebenaran. Syeikh Abdul Qadir Jailani mengutarakan bahwa orang demikian adalah orang yang tidak merasakan dan mengetahui Tauhid.

Sebagai ganti realitas indrawi, sufi menganjurkan kita untuk memiliki ketenangan jiwa atau al-nafs al-muthma’innah, yaitu keselarasan berpikir dan berdzikir. Kesatuan kinerja akal budi dengan kejernihan hati nurani. Dengan demikian kita akan berintuisi.

SMN al-Attas mengutarakan bahwa intuisi adalah penangkapan kebenaran-kebenaran keagamaan secara langsung yang mencakup realitas dan eksistensi Tuhan. Pencapaiannya adalah pembersihan dan penyucian hati. Intinya adalah pengakuan bahwa tiada lagi kesempurnaan selain Tuhan. Ini adalah hakekat diri yang kita cari

Hakekat diri

Untuk mengetahui hakekat diri ini, Sufisme mengajarkan pembersihan diri yang nantinya membuka tabir hakekat Sang Pencipta. Dasarnya adalah hadits yang diriwayatkan Ali bin Abi Thalib: “barang siapa mengetahui dirinya maka akan mengetahui Tuhannyaâ€‌.

Seseorang harus berpaling dari pandangan indrawi menuju pandangan intutif dengan mata hati. Tujuannya adalah membaca sisi-sisi metafisis manusia. Klimaksnya, manusia akan mencapai ma’rifah, yaitu mengetahui bahwa Tuhan lebih dekat ketimbang urat nadi kita (QS 50:16).

Pandangan yang demikian menyebabkan apa yang ada pada realitas eksternal seperti harta, jabatan dan kenikmatan dunia lainnya hanyalah ilusi belaka. Tidak heran bila sirna sudah kecintaan terhadap hal-hal tersebut.

Berpalinglah kepada Wujud Batin. Lebih mesralah dengan Tuhan ketimbang materi keduniaan yang masih bisa direkayasa. Niscaya muncul kebaikan batin dan indrawi. Aziz Nasafi menyebutkan bahwa karena dekat dengan Tuhan, manusia pasti berprilaku baik dengan makhluk lainnya. Inilah kejernihan penglihatan mata batin.

Berbeda dengan persepsi indrawi kita, secara kasat mata bisa saja memandang seseorang itu baik. Ternyata, secara batinnya mempermainkan bahkan tidak mengamini Tuhan.

Orang-orang seperti ini sekilas terlihat baik tapi ternyata mempermainkan rakyat, menyalahgunakan jabatan. Tiada yang diperbuat melainkan kesenangan menyiksa diri sendiri.

Tahapan menuju hakekat diri

Yang harus dilakukan adalah berpaling kepada penyucian diri. Karena itu kita harus mengawali dengan penyesalan atas dosa yang diperbuat, dibarengi dengan menahan diri dari berbagai hawa nafsu, tidak rakus dan senantiasa bersyukur atas apa yang didapat.

Selain itu, perlu diketahui bahwa semua yang ada adalah milik Tuhan bukan milik kita. Karena itu tidaklah patut memakai jubah arogansi. Akan semakin baik bila diselingi kesabaran dan pemasrahan kepada Tuhan atau tawakal.

Andai sifat-sifat terebut dimiliki maka betapa nikmatnya selalu diawasi oleh Tuhan dalam berbagai tindak-tanduk kita. Tiada lain karena sifat-sifat tadi mengkristal dalam kedekatan dan kecintaan kepada-Nya.

Cinta yang demikian membuat kita takut mengotori hati sendiri, apalagi orang lain, meskipun dengan sedikit noda hitam. Al-Attas berpendapat bahwa ini adalah takut karena keagungan dan kemuliaan Tuhan.

Melalui ketakuan ini, akhirnya muncul harapan dan kerinduan untuk senantiasa dekat dengan Tuhan.

Kedua sikap yang terakhir ini menyebabkan ketenangan jiwa karena mata hati telah melihat keagungan Realitas Tertinggi. Keadaan seperti ini dinamakan dengan musyahadah. Bagi Suhrawardi, musyahadah ibarat terbitnya cahaya yang menerangi jiwa dan menyebabkan hilangnya keraguan.

Akibat dekat dengan Tuhan

Secara alami, tidaklah mungkin jika manusia tidak mau dekat dengan Tuhan. Ibnu â€کArabi mengatakan bahwa kedekatan tersebut adalah fitrah dalam hidup. Victor Emil Frankl menyebut kedekatan ini sebagai makna tertinggi kehidupan. Dalam Danish nama-i â€کAla-i, Ibnu Sina menambahkan bahwa kedekatan tersebut mengakibatkan kenikmatan tertinggi.

Terkadang kenikmatan tertinggi ini memunculkan rasa terlindungi. Jangankan dekat, baru sekedar menyebut Tuhan saja sudah terasa terlindungi. Joseph Stalin misalnya, orang seatheis dia saja saat pesawatnya terguncang langsung teriak menyebut nama Tuhan. Orang atheis saja merasa terlindungi karena sedikit terbesit bahwa Tuhan itu ada. Apalagi kita yang tidak atheis, tentu bisa lebih dari itu.

Tapi sayang Stalin tidak agamis. Alhasil, Jules Archer mengklaim dia sebagai presiden yang sarkatis akibat tidak segan membunuh orang bahkan rela membunuh istri sendiri.

Nafsu kebinatangan seperti Stalin akan sirna bila dekat dengan Tuhan. Kedekatan dengan-Nya adalah pengakuan hanya Tuhanlah Wujud sebenarnya.

Ibnu â€کArabi menyebut pengakuan ini dengan wihdat al-wujud, yang berarti sirnanya pandangan indrawi yang merupakan ilusi dan munculnya pengetahuan (ma’rifah) bahwa Tuhanlah Wujud segala wujud.

Pengetahuan semacam ini adalah pengetahuan tertinggi sebagaimana al-Ghazali katakan dalam Ihya Ulum al-Din. al-Raghib al-Ishfahani dan Ibnu Miskawayh menambahkan bahwa semakin tinggi ma’rifah semakin mulia amal kebajikan seseorang.

Ibnu Miskawayh menjelaskan bahwa orang yang sampai pada tingkatan ini akan mampu memperlakukan sesuatu dengan apa adanya, yaitu memperlakukan manusia sebagai manusia, memakai uang negara untuk kepentingan Negara.

Intinya menempatkan sesuatu pada tempatnya, tidak rakus dan berani melakukan sesuatu yang benar. Puncaknya adalah terbiasa dengan sikap adil. Bagi Miskawayh sikap ini adalah gabungan dari sikap-sikap terpuji sebelumnya.

Jika sudah adil maka kerusakan apalagi yang terjadi. Niscaya pudar sudah kezhaliman karena manusia sudah menemui hakekat dirinya.

Hello world!

January 14, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.